RSS

TQM (Total Quality Management)

Penerapan Total Quality Management dan Model Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah untuk Membangun Excellent School

Nurjannatun Aliyah_091714245_Fakukltas Ilmu Pendidikan

Abstrak

Efektifitas dan Keunggulan sekolah merupakan tolok ukur dari keberhasilan kepala sekolah sekolah dalam mengelola sebuah sekolah. Selain itu, Era Globalisasi adalah Era Kompetisioner sehingga banyak cara yang harus ditempuh untuk menjadi yang terbaik salah satu sistem manajemen yang saat ini banyak diterapkan oleh sekolah – sekolah berkwalitas yaitu TQM ((Total Quality Management).

Penelitian ini menitik beratkan pada kolaborasi penerapan sistem manajemen melalui TQM (Total Quality Management) dan Model Kepemimpinan Transformasional sehingga dapat membangun Excellent School. Dengan adanya hal tersebut maka dapat ditarik beberapa pertanyaan: a)Bagaimana Konsep Penerapan TQM dan Model Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah, b)Bagaimana Strategi meyusun Kolaborasi antara TQM dan Model Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah c)Bagaimana Kekurangan dan Kelebihan Konsep Penerapan TQM dan Model Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah.

Kata Kunci: Kepemimpinan Transformasional, TQM (Total Quality Management), Excellent Scool.

Dewasa ini berbagai upaya perbaikan pengelolaan sekolah sangat diperhatikan dan menjadi program utama sekolah, demi mencapai peningkatan mutu sekolah yang lebih berkwalitas dan unggul. Upaya – upaya yang dilakukan sekolah – sekolah dalam peningkatan mutu sekolah agar mencapai menjadi sebuah excellent school maka tolok ukur yang ada adalah dimuai dari bagaimana program—program yang ada disekolah, baik input, proses, outpun (lulusan disekoah tersebut), maupun outcome.

Selanjutnya, perkembangan masyarakat di era globalisasi sangat kompetitif sehingga setiap individu dalam berkehidupan sosial harus memiliki kapasitas lebih dan berkwlitas tinggi. Demikian halnnya dengan penempuhan jenjang pendidikan, masyarakat sekarang telah cerdas untuk memilih dan menilai sebuah lembaga pendidikan yang unggul. Dengan adanya hal tersebut, maka telah menjadi sebuah tuntutan besar dan kewajiban masing – masing  sekolah mencapai kwalitas yang tinggi untuk menyatakan diri sebagai excellent school.

Kemudian, guna untuk menyelaraskan keinginan sekolah dan kebutuhan masyarakat maka TQM akan menjawab semua kebutuhan masyarakat yang ada. Menurut Edward Sallis TQM mempunyai filosofi perbaikan secara terus menerus, hal tersebut kemudian dikembangka oleh Hadari Nawawi dalam Umiarso, TQM adalah manajemen fungsional dengan pendekatan secara terus menerus difokuskan pada peningkatan kualitas dari masyarakat yang dilayani dengan pelaksanaan tugas pelayanan umum (public service) dan pembangunan masyarakat (community development). Adanya pengertian tersebut dapat secara langsung kita artikan bahwa TQM merupakan unit pelayanan pendidikan yang mengacu pada Need of Costumers Education. Sehingga tujuan sekolah dan kebutuhan sekolah dapat berjalan berdampingan membentuk dan membangun sebuah excellent school.

Selain itu, Kepemimpinan Kepala sekolah sangat berperan besar untuk mencapai sebuah excellent school (Sekolah unggul) hal ini sesuai dengan pernyataan Umiarso dan Imam Gojali yaitu “Kepemimpinan Kepala Sekolah merupakan peran vital dalam manajerial sekolah.” Dengan adanya peran yang sangat vital tersebut maka seorang kepala sekolah harus mempunyai kemampuan untuk memimpin dan mempunyai model kepemimpinan sesuai dengan situasi yang dibutuhkan saat ini. Yang dimana model tersebut harus mempunyai efek positif terhadap anggotanya yang akan bekerja untuk organisasi atau lembaga didalamnya sehingga anggota yang mengikutinya dapat bekerja secara maksimal dan sinergis.

Permasalahan model kepemimpinan kepala sekolah dapat dijawab oleh Model Kepemimpinan Transformasional. Menurut Burns dalam Yukl (1998:130) kepemimpinan transformasional diartikan sebagai: “transformational leadership as a process where leader and followers engage in a mutual process of raising one another to higher levels of morality and motivation”. Yang berarti kepemimpinan transformasional merupakan suatu proses dimana pemimpin dan pengikutnya bersama-sama saling meningkatkan dan mengembangkan moralitas dan motivasinya. Melalui model kepemimpinan transformasional, kepala sekolah dapat dengan mudah menjalankan fungsi, tugas, dan perannya sebagai pemimpin sekolah. Dengan model kepemimpinan transformasional kepala sekolah dapat mengimbangi penerapan TQM yang mana seorang pemimpin harus mampu menerjemahkan kebijakan yang jelas dan tujuan yang spesifik sehingga dapat membangun excellent school secara efektif dan efisien.

METODOLOGI

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yang menguraikan dan menggambarkan suatu penerapan total quality management dan model kepemimpinan transformasional. Sumber utama dalam penulisan jurnal ini adalah kajian literatur, serta didukung pula oleh jurnal yang mendukung tulisan ini.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Konsep Sekolah Unggulan (Excellent School)

             Dalam konsep sekolah unggulan yang saat ini diterapkan untuk menciptakan prestasi siswa yang tinggi harus dirancang kurikulum yang baik yang diajarkan oleh guru – guru yang berkwalitas tinggi. Padahal, Sekolah Unggulan merupakan sekolah yang mampu mendayagunakan seluruh komponen yang ada di dalam lembaga pendidikan tersebut secara optimal, sehingga dapat menghasilkan sebuah kwalitas yang tinggi baik dari input, proses, output maupun outcome.

Menurut Umiarso dan Imam Gojali (2010:194) yaitu mendayagunakan seluruh komponen yang ada di dalam lembaga pendidikan tersebut secara optimal yang mempunyai arti yaitu dari berbagai aspek diantaranya: tenaga administrasi, pengembangan kurikulum disekolah, kepala sekolah, dan penjaga sekolah pun harus dilibatkan secara aktif karena semua sumber daya tersebut akan menciptakan iklim sekolah yang mampu membentuk keunggulan sekolah. Dengan adanya hal tersebut maka keunggulan sekolah di Indonesia akan tercipta secara komperensif, kompetitif, dan kekeluargaan.

Menurut Suyanto dalam Umiarso (2010:195)  yaitu program kelas (baca:sekolah) unggulan di Indonesia secara pendagogis menyesatkan, bahkan ada yang telah memasuki malpraktik dan akan merugikan Indonesia dalam jangka panjang. Hal ini terlihat dengan adanya kelas – kelas unggulan yang diciptakan secara mengelompokkan peserta didik menurut kemampuan akademisnya. Padahal telah kita ketahui bersama tidak ada masyarakat Indonesia yang homogen.

Selanjutnya, Pengembangan sekolah unggulan pada dasarnya berpijak diatas 4 strategi dasar kebijakan pendidikan Nasional sebagaimana yang di amanatkan dalam GBHN 1993, diantaranya:

ü  Pemerataan Kesempatan

Dalam pendidikan kita mengenal istilah ekualitas, aksesibilitas dan keadilan. Ekualitas berarti setiap anak mempunyai potensi dan peluang yang sama mendapatkan pengajaran. Aksesibilitas yaitu setiap anak mempunyai akses yang sama untuk mendapatkan sekolah yang bermutu. Keadilan yaitu bagaimana cara kita memberi perlakuan terhadap peserta didik

ü  Relevansi

Pembangunan Pendidikan harus sepadan, seimbang, dan serasi terhadap kondisi saat ini maupun yang akan datang.

ü  Kualitas Pendidikan

Suatu pendidikan terlihat bermutu dari segi proses jika kegiatan belajar mengajar secara efektive dan peserta didik mengalami proses pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan ditunjang oleh sarana prasarana yang memadai.

ü  Efisien

Pendidikan yang efisien yaitu pendidikan yang mana masyarakat, sekitar, stake holder, pemerintah daerah, dan pengusaha berperan secara aktif demi bermunculnya sebuah pembangunan pendididkan yang bermutu.

2. Penerapan TQM (Total Quality Management) atau Manajemen Mutu Terpadu

Konsep penerapan TQM dan Model Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah, merupakan konsep yang berskala makro sehingga dibutuhkan pemikiran yang luas untuk menggabungkan kedua hal tersebut. Manajemen Mutu Terpadu atau Total Quality Management (TQM) sangat populer dilingkungan organisasi profit, khususnya dilingkungan berbagai badan perusahaan dan industri yang telah terbukti keberhasilannya dalam menerapkan dan mengembangkan eksistensinya masing – masing dalam kondisi bisnis yang kompetitif. Kondisi tersebut saat ini telah terlihat pada organisasi nonprofit salah satunya yaitu lembaga pendidikan.

Menurut Hadari Nawawi dalam Umiarso terdapat beberapa Karakteristik yang dimiliki TQM diantaranya:

a)      Fokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal,

b)      Memiliki obsesi yang tinggi terhadap kwalitas,

c)      Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah,

d)     Memiliki komitmen jangka panjang,

e)      Membutuhkan kerjasama tim,

f)       Memperbaiki proses secara berkesinambungan,

g)      Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan,

h)      Memperbaiki kebebasan yang terkendali,

i)        Memiliki kesatuan yang terkendali,

j)        Adanya keterlibatan pemberdayaan karyawan

Dengan adanya karakeristik diatas makan sekolah dengan penerapan TQM akan merubah pemahaman mereka mengenai salah satu guna dari sekolah yaitu sebagai Unit Layanan Jasa yakni pelayanan pembelajaran. Sehingga terdapat 2 pelangggan penting dalam sekolah yaitu pelanggan internal maupun pelanggan eksternal. Pelanggan Internal meliputi guru, pustakawan, laboran, teknisi, dan tenaga administrasi, sedangkan pelanngan internal meliputi siswa, orangtua, pemerintah, dan masyarakat.

Menurut Nuryadin (2009;140) terdapat operasi TQM dalam dunia pendidikan diantaranya: Perbaikan secara terus menerus, menentukan standart mutu, perubahan kultur, perubahan organisasi, mempertahankan hubungan dengan pelanggan, diperlukan komitmen dan kerjasama yang baik dengan pihak eksternal maupun internal.

Kemudian adanya pelanggan internal dan eksternal dalam pengelolaan lembaga pendidikan khususnya tredapat sebuah model kepemimpinan kepala sekolah yang efektif yaitu Kepemimpinan Transformasional.

3. Model Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah

Kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang mampu menggerakkan setiap individu untuk menjadi aktor utama proses perubahan. Menurut Yukl (2010:316), terdapat beberapa pedoman untuk menjadi Pemimpinan Transformasional, diantaranya:

  1. Menyatakan Visi yang Jelas dan Menarik.
  2. Menjelaskan Bagaimana Visi tersebut Dicapai.
  3. Bertindak Secara Rahasia dan Optimis.
  4. Memperlihatkan Keyakinan terhadap Pengikut.
  5. Menggunakan tindakan dramatis dan simbolis untuk menekankan nilai – nilai penting.
  6. Memimpin dengan memberikan contoh.
  7. Memberikan kewenangan kepada orang – orang untuk mencapai visi.

Dengan adanya tujuh pedoman diatas maka telah terlihat kepemimpinan transformasional memiliki kaitan yang sangat erat dalam penerapan TQM sehingga dapat berjalan secara efektif.

Kepala Sekolah harus menyadari dan mengakui peranannya sebagai seorang manajer sekolah yang dimana dia tidak bekerja sendiri akan tetapi dia mempunyai lingkungan yang setiap saat ia perlukan untuk berinteraksi(Thoha, Miftah 10: 2010). Dengan ada pemahan tersebut maka seorang kepala sekolah sebagai seorang manajer harus dapat menciptakan hubungan yang harmonis terhadap warga sekolah khususnya terhadap guru, tenaga administrasi, dan staf – staf lainnya.

Contoh Penerapan Model Kepemimpinan Tramsformasional Kepala Sekolah terhadap Kompetensi Guru

Kepala sekolah yang transformer sangat senang jika guru melaksanakan penelitian tindakan kelas atau classroom action research. Sebab, dengan penelitian kelas, seorang guru akan mampu menutup gap antara wacana konseptual dengan realitas empirik.Dengan demikian, guru akan dapat menemukan solusi atas persoalan keseharian yang dihadapinya selama proses KBM berlangsung di kelas. Jika hal ini terjadi, maka ia akan mampu memecahkan sendiri persoalan yang muncul dari praktik profesionalnya.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui optimalisasi peran kepala sekolah. Idochi Anwar dan Yayat Hidayat Amir (2000) mengemukakan bahwa “ kepala sekolah sebagai pengelola memiliki tugas mengembangkan kinerja personel, terutama meningkatkan kompetensi profesional guru.” Perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional di sini, tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi semata, tetapi mencakup seluruh jenis dan isi kandungan kompetensi sebagaimana telah dipaparkan di atas.

Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006), terdapat tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai : (1) educator (pendidik); (2) manajer; (3) administrator; (4) supervisor (penyelia); (5) leader (pemimpin); (6) pencipta iklim kerja; dan (7) wirausahawan;

Merujuk kepada tujuh peran kepala sekolah sebagaimana disampaikan oleh Depdiknas di atas, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas hubungan antara peran kepala sekolah dengan peningkatan kompetensi guru.

  • Kepala sekolah sebagai educator (pendidik)

Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru merupakan pelaksana dan pengembang utama kurikulum di sekolah. Kepala sekolah yang menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya tentu saja akan sangat memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya, sekaligus juga akan senantiasa berusaha memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat secara terus menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien

  • Kepala sekolah sebagai manajer

Dalam mengelola tenaga kependidikan, salah satu tugas yang harus dilakukan kepala sekolah adalah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan profesi para guru. Dalam hal ini, kepala sekolah seyogyanya dapat memfasiltasi dan memberikan kesempatan yang luas kepada para guru untuk dapat melaksanakan kegiatan pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah, –seperti : MGMP/MGP tingkat sekolah, in house training, diskusi profesional dan sebagainya–, atau melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan di luar sekolah, seperti : kesempatan melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang diselenggarakan pihak lain.

  • Kepala sekolah sebagai administrator

Khususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan, bahwa untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak lepas dari faktor biaya. Seberapa besar sekolah dapat mengalokasikan anggaran peningkatan kompetensi guru tentunya akan mempengaruhi terhadap tingkat kompetensi para gurunya. Oleh karena itu kepala sekolah seyogyanya dapat mengalokasikan anggaran yang memadai bagi upaya peningkatan kompetensi guru.

  • Kepala sekolah sebagai supervisor

Untuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran, secara berkala kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode, media yang digunakan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (E. Mulyasa, 2004).

  • Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin)

Gaya kepemimpinan kepala sekolah seperti apakah yang dapat menumbuh-suburkan kreativitas sekaligus dapat mendorong terhadap peningkatan kompetensi guru. Dalam teori kepemimpinan setidaknya kita mengenal dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, seorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Kendati demikian menarik untuk dipertimbangkan dari hasil studi yang dilakukan Bambang Budi Wiyono (2000) terhadap 64 kepala sekolah dan 256 guru Sekolah Dasar di Bantul terungkap bahwa ethos kerja guru lebih tinggi ketika dipimpin oleh kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada manusia.
Kepemimpinan seseorang sangat berkaitan dengan kepribadian dan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin dalam sifat-sifat sebagai barikut : (1) jujur; (2) percaya diri; (3) tanggung jawab; (4) berani mengambil resiko dan keputusan; (5) berjiwa besar; (6) emosi yang stabil, dan (7) teladan (E. Mulyasa, 2003)

  • Kepala sekolah sebagai pencipta iklim kerja

Budaya dan iklim kerja yang kondusif akan memungkinkan setiap guru lebih termotivasi untuk menunjukkan kinerjanya secara unggul, yang disertai usaha untuk meningkatkan kompetensinya. Oleh karena itu, dalam upaya menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif, kepala sekolah hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) para guru akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan, (2) tujuan kegiatan perlu disusun dengan dengan jelas dan diinformasikan kepada para guru sehingga mereka mengetahui tujuan dia bekerja, para guru juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut, (3) para guru harus selalu diberitahu tentang dari setiap pekerjaannya, (4) pemberian hadiah lebih baik dari hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan, (5) usahakan untuk memenuhi kebutuhan sosio-psiko-fisik guru, sehingga memperoleh kepuasan (modifikasi dari pemikiran E. Mulayasa tentang Kepala Sekolah sebagai Motivator, E. Mulyasa, 2003)

  • Kepala sekolah sebagai wirausahawan

Dalam menerapkan prinsip-prinsip kewirausaan dihubungkan dengan peningkatan kompetensi guru, maka kepala sekolah seyogyanya dapat menciptakan pembaharuan, keunggulan komparatif, serta memanfaatkan berbagai peluang. Kepala sekolah dengan sikap kewirauhasaan yang kuat akan berani melakukan perubahan-perubahan yang inovatif di sekolahnya, termasuk perubahan dalam hal-hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran siswa beserta kompetensi gurunya.

3. Kelebihan dan Kelemahan Penerapan TQM dan Model Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah.

Dalam penerapan TQM dan Model Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah untuk membangun sekolah yang unggul mempunyai banyak segi kelebihan maupun kelemahan diantaranya:

NO

KELEBIHAN

KELEMAHAN

1. Merupakan konsep inovatif yaitu perpaduan antara sebuah sistem manajemen yaitu TQM dan Model Kepemimpinan Modern yaitu Model Kepemimpinan Transformasional. Konsep baru yang belum di implementasikan oleh banyak lembaga sehingga keefektifan dan keefisienan konsep masih dalam penelitian.
2. Sebuah penelitian deskriptif yang diharapkan menjadi acuan untuk mengembangkan mutu pendidikan melalui pembangunan sekolah unggulan. Banyak Lembaga yang belum siap menggunakan konsep ini, dikarenakan banyak faktor baik Sumber Daya Manusia nya ataupun Sarana Prasarana yang ada. 
3. Penerapan TQM dan Model Kepemimpinan transformasional merupakan suatu konsep yang menjawab semua kebutuhan masyarakat saat ini. Sehingga anatara keinginan dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi oleh konsep ini. Indonesia mempunyai masyarakat yang majemuk sehingga keinginan dan kesiapan masyarakat menghadapi perubahan di perlukan waktu yang panjang untuk memperkenalkan.
4. Penerapan TQM dan Model Kepemimpinan transformasional merupakan konsep yang mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk membangun bersama mutu pendidikan yang lebih maju dan sinergis. Sehingga, dengan adanya pemberdayaan seluruh komponen yang ada di Indonesia ini maka pendidikan yang bermutu tinggi bukan hanya sekedar impian akan tetapi kenyataan yang akan dibangun bersama. Adanya kebijakan pemerintah yang seringkali berubah – ubah sehingga penyesuaian konsep perlu dipertimbangkan secara matang

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Diantaranya:

1)      Sekolah Unggulan (Excellent School) merupakan Sekolah yang mendayagunakan seluruh komponen yang ada di dalam lembaga pendidikan tersebut secara optimal sehingga tercipta iklim kebersamaan membangun keunggulan sekolah.

2)      Operasi TQM dalam dunia pendidikan diantaranya: Perbaikan secara terus menerus, menentukan standart mutu, perubahan kultur, perubahan organisasi, mempertahankan hubungan dengan pelanggan, diperlukan komitmen dan kerjasama yang baik dengan pihak eksternal maupun internal.

3)      Model kepemimpinan transformasional kepala sekolah dapat mengimbangi penerapan TQM yang mana seorang pemimpin harus mampu menerjemahkan kebijakan yang jelas dan tujuan yang spesifik sehingga dapat membangun excellent school secara efektif dan efisien.

Saran

Diantaranya :

1)      Sebaiknya Pemerintah menerapkan UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang desentralisasi pendidikan sehingga perhatian pemerintah daerah terhadap sekolah unggulan semakin serius.

2)      Seharusnya, pemerintah menyadari bahwa sekolah unggulan bukan hanya sebagai neraca politisi saja akan tetapi lebih diberdayakan sebagai lembaga edukatif murni untuk kesejahteraan masyarakat.

3)      Sebaiknya lembaga – lembaga pendidikan yang ada pada saat ini melakukan sebuah pembaharuan baik dari sistem manajemen internal maupun hubungan eksternal sekolah, sehingga ujung dari keberhasilan pendidikan dapat dirasakan oleh seluruh kalangan yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Yukl, Gary. (2010) Leadership in Organization. Prentice-Hall : New Jersey.

Umiarso & Imam Gojali.(2010)Manajemen Mutu Sekolah.Jogjakarta: Ircisod.

Sallis, Edward.(2006)Total Quality Management in Education.Jogjakarta: Ircisod.

Thohah, Miftah.(2010) Kepemimpinan dalam Manajemen.Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Nuryadin, Asli.(2009)Manajemen Pengambilan Keputusan. Jember: Laks Bang

Sudrajat, Ahmad.(2008)Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kompetensi Guru. Posted Posted Sab, 04/10/2008 time 13:52 http://www.psb-psma.org/content/blog/peran-kepala-sekolah-dalam-meningkatkan-kompetensi-guru

http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/28/peranan-motivasi-dalam-praktik-kepemimpinan-kepala-sekolah/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: