RSS

Kepemimpinan Pendidikan

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA SEKOLAH

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Dewasa ini berbagai upaya perbaikan pengelolaan sekolah di tingkatkan dalam mencapai peningkatan daya saing sekolah yang lebih berkwalitas. Upaya – upaya yang dilakukan sekolah – sekolah dalam peningkatan daya saing sekolah diakukan dilandasi suatu kesadaran dalam melihat dunia pendidikan pada saat ini yang mengingin untuk meningkatkan suatu kwalitas bangsa yaiyu pengembangan watak bangsa (Nation Character Building).

Sumber Daya Manusia dalam dunia pendidikan merupakan unsur pokok yang harus dikelola dan dikembangkan secara terus menerus, sehingga dapat menjadi aset yang bermanfaat bagi pendidikan. Sekolah merupakan proses implementasi pendidikan formal salah satu jenjang yang ada pada pendidikan adalah jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Proses keberlangsungan pendidikan dalam Sekolah  tidak terlepas dari adanya peran seorang Kepala Sekolah. Seanjutnya, Kepala Sekoah merupakan seorang pemimpin dalam sekolah, hal ini diperkuat dengan adanya pendapat dari salah satu ahli, menurutPurwanto bahwa seorang kepala sekolah mempunyai sepuluh macam peranan, yaitu : “Sebagai pelaksana, perencana, seorang ahli, mengawasi hubungan antara anggota-anggota, menwakili kelompok, bertindak sebagai pemberi ganjaran, bertindak sebagai wasit, pemegang tanggung jawab, sebagai seorang pencipta, dan sebagai seorang ayah.”  (Purwanto, 2004 : 65)

Lahirnya Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada dasarnya merupakan kebijakan pemerintah yang didalamnya memuat usaha pemerintah untuk menata dan memperbaiki mutu guru di Indonesia.

Mutu Guru di setiap sekolah ti terlepas dengan keberadaan kepala sekolah sebagai leader di sekolah tersebut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Gorthon dan Scheinder; 1991; Halinger dan Leithwood; 1994) Peranan Kepala sekolah daam meningkatkan profesionalisme guru sudah lama diakui sebagai salah satu factor penting dalam organisasi sekolah, terutama tanggungjawab dalam meningkatkan dalam proses pembelajaran.

Michael G. Fullan yang dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan bahwa “educational change depends on what teachers do and think…” Pendapat tersebut mengisyaratkan bahwa perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan sangat bergantung pada “what teachers do and think “. atau dengan kata lain bergantung pada penguasaan kompetensi guru.

Jika kita amati lebih jauh tentang realita kompetensi guru saat ini agaknya masih beragam. Sudarwan Danim (2002) mengungkapkan bahwa salah satu ciri krisis pendidikan di Indonesia adalah guru belum mampu menunjukkan kinerja (work performance) yang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja guru belum sepenuhnya ditopang oleh derajat penguasaan kompetensi yang memadai, oleh karena itu perlu adanya upaya yang komprehensif guna meningkatkan kompetensi guru.

Adanya system pendidikan yang mudah berubah, daya kompetisi antar sekolah semakin tinggi dan kuat, kebutuhan masyarakat semakin kompleks, dan peningkatan mutu guru yang semakin harus terealisai maka perlu jawaban untuk menyeimbangkan, menyelaraskan dengan realita yang ada. Model Kepemimpinan Transformasional merupakan jawaban dari masalah – masalah yang ada pada sekolah era demokrasi ini.

Menurut, Burns dalam Yukl (1998:130) kepemimpinan transformasional diartikan sebagai: “transformational leadership as a process where leader and followers engage in a mutual process of raising one another to higher levels of morality and motivation”. Kepemimpinan transformasional menurut Burns merupakan suatu proses dimana pemimpin dan pengikutnya bersama-sama saling meningkatkan dan mengembangkan moralitas dan motivasinya.

Kepemimpinan kepala sekolah merupakan hal penting dalam menunjukkan kemajuan sekolah. Davis dan Thomas 1989, Sgiovanni 1991 dan Mantja, 1996) mengatakan bahwa sekolah efektif merupkan hasil tindakan kepala sekolah efektif.

Dengan adanya latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah terhadap Daya Saing Sekolah

B.     Rumusan Masalah

Dengan adanya latar belakang diatas maka rumusan masalahnya yang akan dibahas yaitu “Bagaimana pengaruh kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap daya saing sekolah”

C.    Tujuan

Diantaranya:

  1. Mendeskripsikan pengaruh kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap daya saing sekolah.
  2. Mendeskripsikan tolok ukur daya saing sekolah yang berkwalitas.

D.    Manfaat

Hasil peneitian ini diharapkan memberi manfaat, diantaranya :

Manfaat Teoritis

Bagi akademisi sebagai bahan acuan untuk pengembangan Ilmu Pengetahuan,khususnya pada Prodi Manajemen Pendidikan pada mata kuliah kepemimpinan.

Manfaat Praktis

Yaitu: sebagai bahan masukan untuk Kepala Sekolah agar menjadi pemimpin atau manajer sekolah yang mengelola sekolah secara efektiv dan efisien sehingga mempunyai peran andil besar dalam memajukan kwalitas sekolah sehingga sekolah berdaya saing yang tinggi.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A.    Pengertian Daya Saing Sekolah

Dalam literatur, istilah “daya saing” (competitiveness) mempunyai interpretasi/tafsiran beragam. Meskipun begitu, setidaknya telah “diawali” oleh konsep keunggulan komparatif (comparative advantage) Ricardo sejak abad 18, kini mendapat perhatian yang semakin besar terutama tiga dekade belakangan ini. Daya saing, satu dari sekian jargon yang sangat populer, tetapi tetap tak sederhana untuk dipahami. Seperti diungkapkan oleh Garelli (2003), konsep yang multidimensi ini sangat memungkinkan beragam definisi dan pengukuran. Tidaklah mengejutkan jika perkembangan pandangan dan diskusi tentang daya saing tak luput dari kritik dan perdebatan yang juga terus berlangsung hingga kini.

Ungkapan Michael E. Polter dalam bukunya yang berjudul Compotitive Adventage (1994) dan Compotitive Strategy (1996) penulis menjadikan buku ini sebagai acuan dan bahan pembanding dalam membahas daya saing. Kalimat ”global competitiveness” atau daya saing global selanjutnya kata competitive adventage diartikan keunggulan bersaing dan kata ”compotitive strategy” diartikan strategi bersaing.

Selanjutnya dengan adanya daya saing sekolah, sekolah – sekolah yang ada pada saat ini akan berkompetisi memperbaiki dan memajukan kwalitas sekolah mereka masing – masing dengan program peningkatan mutu. Adanya peningkatan mutu maka indikator mutu pendidikan harus ada, menurut M.N. Nasution mendefinisikan delapan dimensi  yang dapat digunakan untuk menganalisis karakteristik kualitas produk. Kedelapan dimensi, diantaranya:

Kinerja (Performance)

Yaitu: berkaitan dengan aspek fungsional dari produk dan merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan ketika ingin membeli suatu produk yakni karakteristik pokok dari produk inti.

Features

Yaitu: Merupakan aspek kedua dari performance yang menambah fungsi dasar serta berkaitan dengan pilihan – pilihan dan pengembangannya , yaitu ciri – ciri tambahan atau karakteristik perlengkapan.

Kendala (Reability),

yaitu berkaitan dengan kemungkinan suatu produk yang berfungsi secara berhasil daam periode waktu waktu tertentu dibawah kondisi tertentu. Dengan demikian, kendala merupakan karakteristik yang merefleksikan kemungkinan tingkat keberhasilan dalam penggunaan suatu produk.

Conformance

Yaitu berkaitan dengan tingkat kesesuaian produk terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan pelanggan.

Daya Tahan (Durability)

Yaitu berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan.

Serviceability

Merupakan karakteristik yang berkaitan dengan kesopanan, kompetensi, kemudahan, serta penanganan keluhan yang memuaskan.

Estetika

Yaitu: merupakan karakteristik mengenai keindahan yang bersifat subjektif sehingga berkaitan dengan pertimbangan pribadi dan refleksi dari preferensi atau pilihan individul.

Kualitas yang dipresepsikan (perceived quality)

Yaitu: karakteristik yang berkaitan dengan reputasi (brandname, image)

 Adapun indikator yang menjadi tolok ukur mutu pendidikan yaitu hasil akhir pendidikan. Hasil tersebut yang menjadi titik tolak pengukuran pendidikan suatu lembaga pendidikan, diantaranya: tes tulis, proses pendidikan, daftar absen, dll. Selain itu, tolok ukur keberhasilan mutu pendidikan dilihat dari Indikator peningkatan mutu pendidikan di sekolah dilihat pada setiap komponen pendidikan antara lain: mutu lulusan, kualitas guru, kepala sekolah, staf sekolah (Tenaga Administrasi, Laboran dan Teknisi, Tenaga Perpustakaan), proses pembelajaran, sarana dan prasarana, pengelolaan sekolah, implementasi kurikulum, sistem penilaian dan komponen-lainnya.

B.     Pengertian Kepemimpinan

            Kepemimpinan adalah proses memberikan tujuan (arahan yang berarti) ke usaha yang kolektif, yang menyebabkan adanya usaha yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan (Jacobs dan Jaques, 1990). Dalam hal ini kepemimpinan merupakan tiang pokok darin penggerak suatu organisasi untuk mencapai satu tujuan dalam organisasi. Jadi kepemimpinan itu akan terjadi dalam situasi tertentu seseorang mempengaruhi perilaku orang lain.

Selanjutnya menurut House et Al, 1999 devinisi Kepemimpinan adalah Kemapuan individu untuk mempengaruhi, memotivasi, dan membuat orang lain mampu memberikan kontribusinya demi evektifitas dan keberhasilan organisai. Devinisi tersebut menggambarkan tentang sebuah kemampauan kepemimpinan untuk mempengaruhi orang lain merupakan inti dari kepemimpinan sedang untuk mempengaruhi orang lain.

Selanjutnya, sebagai pemimpin perlu mengetahui beberapa strategi antara lain : (a)Menggunakan fakta dan data untuk mengemukakan dan alasan yang logis, (b)Besikap bersahabat dan mendukung upaya yang ada dalam perusahaan, (c)Memobilisasi atau mengaktifkan orng lain untuk melaksanakan pekerjaan, (d)Melakukan negosiasi, (e)Menggunakan pendekatan langsung dan kalau terpaksa menggunakan kedudukan lebih tinggi dalam organisasi, dan (f)Memberikan sanksi dan hukuman terhadap perilaku yang menyimpang. Sehubungan dengan yang telah diuraikan di atas jelas bahwa, kemampuan meminpin dan ketaatan pada pemimpin lebih banyak didasarkan pada gaya kepemimpinan yang ditunjukkan kepada pemimpin itu sendiri.

C.    Tipe-tipe dan Pendekatan Kepemimpinan

Sebagian (1999:27) mengemukakan tipe-tipe kepemimpinan yaitu :

  • Tipe Otokratik

Yaitu: Kepemimpinan berdasarkan dirinya pada kekuasaan paksaan yang selalu harus dipatuhi. Pemimpinnya harus berperan sebagai pemain tunggal pada “a one man show”.

  • Tipe Paternalistic

Yaitu: tipe gaya kebapaan, dengan sifat-sifat antara lain: (1) menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak atau belum dewasa; besikap selalu melindungi, (2) jarang memberikan kesempatan pada bawahannya untuk mengambil keputusan sendiri, (3)hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreatifnya, (3)  merasa dirinya tahu segalanya.

  • Tipe Laissez Faire,

Yaitu seorang pemimpin yang praktis tidak memimpin, sebab dia membiarkan kelompoknya berbuat semaunya.

  • Tipe Demokratik,

Yaitu pemimpin yang memberikan bimbingan yang efisien kepada bawahannya, dengan penekanan rasa tanggung jawab internal dan kebijakan yang baik.

D.    Kepemimpinan Dalam Sekolah

Kepemimpinan dalam sekolah merupakan suatu ha yang umum diakukan oleh seorang Kepala Sekolah. Hal ini diperkuat dengan adanya tugas yang harus dilakukan kepala sekolah adalah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan profesi para guru.

Model Kepemimpinan seseorang sangat berkaitan dengan kepribadian dan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin dalam sifat-sifat sebagai barikut : (1) jujur; (2) percaya diri; (3) tanggung jawab; (4) berani mengambil resiko dan keputusan; (5) berjiwa besar; (6) emosi yang stabil, dan (7) teladan (E. Mulyasa, 2003).

Menurut Ayan peranan kepala sekolah sebagai pemimpin, sebagai berikut :

1)      Sebagai Eksekutif Seorang pemimpin tidak boleh memaksakan kehendak sendiri terhadap kelompoknya. Ia harus berusaha memenuhi kehendak dan kebutuhan kelompoknya, juga program atau rencana yang telah ditetapkan bersama.

2)      Sebagai perencana (planner), sebagai kepala sekolah yang baik harus pandai membuat dan menyusun perencanaan, sehingga segala sesuatu yang akan diperbuatnya bukan secara sembarangan saja, tatapi segala tindakan diperhitungkan dan bertujuan.

3)      Sebagai seorang ahli (expert), haruslah mempunyai keahlian terutama yang berhubungan dengan tugas jabatan kepemimpinan yang dipegangnya.

4)      Mengawasi hubungan antara anggota-anggota kelompok (contoller of internal relationship), menjaga jangan sampai terjadi perselisihan dan berusaha mambangun hubungan yang harmonis.

5)      Mewakili kelompok (group representative), harus menyadari, bahwa baik buruk tindakannya di luar kelompoknya mencerminkan baik buruk kelompok yang dipimpinnya.

6)      Bertindak sebagai pemberi ganjaran / pujian dan hukuman, harus membesarkan hati anggota-anggota yang bekerja dan banyak sumbangan terhadap kelompoknya.

7)      Bertindak sebagai wasit dan penengah (arbitrator and modiator), dalam menyelesaikan perselisihan atau menerima pengaduan antara anggota-anggotanya ia harus dapat bertindak tegas, tidak pilih kasih atau mementingkan salah satu anggotanya.

8)      Pemegang tanggung jawab para anggota kelompoknya, haruslah bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan anggota-anggotanya yang dilakukan atas nama kelompoknya.

9)      Sebagai pencipta/memiliki cita-cita (idiologist), seorang pemimpin hendaknya mempunyai kosepsi yang baik dan realistis, sehingga dalam menjalankan kepemimpinannya mempunyai garis yang tegas menuju kearah yang dicita-citakan.

10)  Bertindak sebagai ayah (father figure), tindakan pemimpin terhadap anak buah/kelompoknya hendaknya mencerminkan tindakan seorang ayah terhadap anak buahnya.

Apabila kita meneliti lebih lanjut, maka dapat kiranya apa yang dikemukakan oleh Bapak Pendidikan kita “Ki Hadjar Dewantara”, mengatakan bahwa pemimpin yang baik haruslah menjalankan peranan seperti : Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Ing Tut Wuri Handayani. Dengan adanya semboyan diatas maka pendidikan di Indonesia akan terwujud sesuai dengan tujuan dan harapan bangsa.

E.     Efektivitas Kepemimpinan

Seperti definisi kepemimpinan, konsep kepemimpinan yang efektif juga berbeda antara satu pakar dengan pakar yang lain. Ukuran yang paling banyak digunakan untuk mengukur efektifitas pemimpin adalah seberapa jauh unit organisasi pemimpin tersebut berhasil menunaikan tugas pencapaian sasaran. Berikut beberapa hal indikator pengukuran pemimpin yang efektif :

  1. Pentuan Sikap  anggota terhadap pemimpin.
  2. Kontribusi pemimpin yang dirasakan anggota kelompok.
  3. Sikap motivasi pemimpin kepada anggota.
  4. Loyalitas waktu, tenaga, dan pikiran pemimpin.

Sangat sulit untuk mengevaluasi pemimpin yang efektif karena terdapat banyak alternative ukuran evektifitas, dan tidak jelas mana ukuran yang paling relevan. Dengan adanya efektivitas pemimpin kita dapat melihat perilaku kepemimpinan terhadap anggota keompoknya.

F.     Kepemimpinan Transformasional

         Istilah kepemimpinan transformasional dibentuk oleh 2 kata yaitu kepemimpinan dan transformasional. Transformasional berasal dari kata to transform yang bermakna mengubah sesuatu menjadi bentuk lain yang berbeda.

Pengertian Kepemimpinan Transformasional menurut beberapa ahli diantaranya:

1. Burns dalam Yukl (1998:130) kepemimpinan transformasional diartikan sebagai: “transformational leadership as a process where leader and followers engage in a mutual process of raising one another to higher levels of morality and motivation”. Kepemimpinan transformasional menurut Burns merupakan suatu proses dimana pemimpin dan pengikutnya bersama-sama saling meningkatkan dan mengembangkan moralitas dan motivasinya.

2. Jack Welah dikutip Harsiwi (2003) menyimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional adalah “kepemimpinan yang dimiliki oleh manajer atau pemimpin dimana kemampuannya bersifat tidak umum dan diterjemahkan melalui kemampuan untuk merealisasikan misi, mendorong para anggota untuk melakukan pembelajaran, serta mampu memberikan inspirasi kepada bawahan mengenai berbagai hal yang perlu diketahui dan dikerjakan” .

3. Locke mengatakan bahwa kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang dipertentangkan dengan kepemimpinan yang memelihara status quo. Kepemimpinan transformasional inilah yang sungguh-sungguh diartikan sebagai kepemimpinan yang sejati karena kepemimpinan ini sungguh bekerja menuju sasaran pada tindakan mengarahkan organisasi kepada suatu tujuan yang tidak pernah diraih sebelumnya. Para pemimpin secara riil harus mampu mengarahkan organisasi menuju arah baru (Yukl:1998:157).

Kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang mampu menggerakkan setiap individu untuk menjadi aktor utama proses perubahan. Terdapat beberapa pedoman untuk menjadi Pemimpinan Transformasional, diantaranya:

  1. Menyatakan Visi yang Jelas dan Menarik.
  2. Menjelaskan Bagaimana Visi tersebut Dicapai.
  3. Bertindak Secara Rahasia dan Optimis.
  4. Memperlihatkan Keyakinan terhadap Pengikut.
  5. Menggunakan tindakan dramatis dan simbolis untuk menekankan nilai – nilai penting.
  6. Memimpin dengan memberikan contoh.
  7. Memberikan kewenangan kepada orang – orang untuk mencapai visi.

Kepala sekolah yang transformer sangat senang jika guru melaksanakan penelitian tindakan kelas atau classroom action research. Sebab, dengan penelitian kelas, seorang guru akan mampu menutup gap antara wacana konseptual dengan realitas empirik.Dengan demikian, guru akan dapat menemukan solusi atas persoalan keseharian yang dihadapinya selama proses KBM berlangsung di kelas. Jika hal ini terjadi, maka ia akan mampu memecahkan sendiri persoalan yang muncul dari praktik profesionalnya.

Sikap tersebut sesuai dengan pendapat Luthans, 1995: 358, terdapat tujuh sikap dari seorang kepala sekolah yang telah berhasil menerapkan gaya kepemimpinan transformasionalnya, yakni, 1) mengidentifikasi dirinya sebagai agen perubahan (pembaruan); 2) memiliki sifat pemberani; 3) mempercayai orang lain; 4) bertindak atas dasar sistem nilai (bukan atas dasar kepentingan individu, atau atas dasar kepentingan dan desakan kroninya); 5) meningkatkan kemampuannya secara terus-menerus; 6) memiliki kemampuan untuk menghadapi situasi yang rumit, tidak jelas, dan tidak menentu; serta 7) memiliki visi ke depan atau visioner.

Northouse (2001) menyimpulkan bahwa seseorang yang dapat menampilkan kepemimpinan transformasional ternyata dapat lebih menunjukkan sebagai seorang pemimpin yang efektif dengan hasil kerja yang lebih baik. Oleh karena itu, merupakan hal yang amat menguntungkan jika para kepala sekolah dapat menerapkan kepemimpinan transformasional di sekolahnya.

Karena kepemimpinan transformasional merupakan sebuah rentang yang luas tentang aspek-aspek kepemimpinan, maka untuk bisa menjadi seorang pemimpin transformasional yang efektif membutuhkan suatu proses dan memerlukan usaha sadar dan sunggug-sungguh dari yang bersangkutan. Northouse (2001) memberikan beberapa tips untuk menerapkan kepemimpinan transformasional, yakni sebagai berikut:

  1. Berdayakan seluruh bawahan untuk melakukan hal yang terbaik untuk organisasi
  2. Berusaha menjadi pemimpin yang bisa diteladani yang didasari nilai yang tinggi
  3. Dengarkan semua pemikiran bawahan untuk mengembangkan semangat kerja sama
  4. Ciptakan visi yang dapat diyakini oleh semua orang dalam organisasi
  5. Bertindak sebagai agen perubahan dalam organisasi dengan memberikan contoh bagaimana menggagas dan melaksanakan suatu perubahan
  6. Menolong organisasi dengan cara menolong orang lain untuk berkontribusi terhadap organisasi
    G.     Komponen Gaya Kepemimpinan Transformasional

Menurut Bass dan Silin (dalam Yukl, 1998:248) menyatakan kepemimpinan transformasional terdiri atas empat komponen:

a.      Karisma

Karisma merupakan komponen penting dalam konsep kepemimpinan transformasional. Pemimpin karismatik haruslah memiliki kriteria sebagai seorang yang tinggi tingkat kepercayaan dirinya, kuat keyakinan dan idealismenya serta mampu mempengaruhi orang lain. Pemimpin yang karismatik pada umumnya memperoleh perasaan cinta dari anak buah, bahkan bawahan merasa percaya diri dan saling mempercayai di bawah seorang pemimpin yang karismatik. Bagi seorang pemimpin karismatik, bawahan menerima pemimpinnya sebagai model yang diingini setiap saat, tumbuh antusiasme kerja anak buah, mampu membuat anak buah bekerja lebih lama dengan senang hati. Skala karisma kepemimpinan transformasional mendeskripsikan sejauhmana pemimpin menciptakan antusiasme anak buah, mampu membedakan hal-hal yang benar-benar penting, serta membangkitkan perasaaan mengemban misi terhadap organisasi. Melalui karisma, pemimpin mengilhami loyalitas dan ketekunan, menanamkan kebanggaan dan kesetiaan selain membangkitkan rasa hormat. Selanjutnya menurut Dubrin (2005:44)

Berdasarkan uraian di atas aspek–aspek perilaku, bahwa karisma adalah:

  1. Keteladanan

Seorang pemimpin yang menjadi panutan ia harus mempunyai sikap setia kepada organisasi, kesetiaan kepada bawahan, dedikasi pada tugas, disiplin kerja, landasan moral dan etika yang digunakan, kejujuran, perhatian pada kepentingan dan berbagai nilai-nilai yang bersifat positif.

Berlaku jujur

Pemimpin karismatik adalah orang-orang yang jujur dan terbukan pada orang lain, tidak kaku, biasanya terus terang dalam memberikan penilaian atas sesuatu dan situasi. Kebenaran itu kadang pahit, tetapi tidak melemahkan para pemimpin yang karismatik (Dubrin, 2005:49) Orang karismatik adalah orang yang jujur tentang aspek negatif dan positif, memahami orang lain dan situasi dengan cepat, akurat, sehingga dapat mengetahui dimana mereka sesungguhnya berada.

Kewibawaan;

Menurut Fiedler dan Chamers (dalam Wahjusumidjo 2003:428) bahwa keberhasilan seorang pemimpin dari segi sumber dan terjadinya sejumlah kewibawaan yang ada pada para pemimpin, dan dengan cara yang bagaimana para pemimpin menggunakan kewibawaan tersebut kepada bawahannya. Selanjutnya menurut Wahjosumidjo (2003:433) mengatakan kewibawaan (power) merupakan keunggulan, kelebihan atau pengaruh yang dimiliki oleh pemimpin unit kerja. Kewibawaan pemimpin dapat mempengaruhi orang lain, menggerakan, memberdayakan segala sumber daya institusi kerja untuk mencapai tujuan institusi sesuai dengan keinginan pemimpin.

Memiliki semangat

Optimisme dan energi, salah satu kualitas luar biasa dari orang yang karismatik adalah selalu bersemangat, optimisme, dan energi setiap saat.

Pujian yang Beralasan

Pemimpin karismatik adalah bersifat jujur dan selalu memberi pujian. Mereka selalu memuji tindakan atau karakteristik yang layak dipuji. Pujian jujur membuat orang lain merasa senang. Salah satu ciri pemimpin yang karismatik adalah membuat orang lain senang (Dubrin, 2005:51).

Menggunakan ekspresi wajah yang hidup

Orang karismatik selalu menunjukkan ekspresi wajah yang hidup seperti senyum, ekspresi senang.

b.      Pertimbangan Individual

Setiap pemimpin transformasional akan memperhatikan faktor-faktor individual sebagaimana tidak bisa disamaratakan karena adanya perbedaan, kepentingan, dan pengembangan diri yang berbeda. Dalam model kepemimpinan transformasional pertimbangan individual diartikan sebagai perilaku yang mencerminkan suatu kepekaan terhadap keanekaragaman, keunikan minat, bakat serta mengembangkan diri.

Menurut Wahjosumidjo (2001:24) pertimbangan individu (konsiderasi) adalah menunjukkan perilaku yang bersahabat, saling adanya kepercayaan, saling menghormati, dan hubungan yang sangat hangat di dalam kerja sama antara pemimpin dengan anggota kelompok. Seorang pemimpin transformasional akan memperhatikan faktor-faktor individu sebagaimana mereka tidak boleh disamaratakan karena adanya: perbedaan, kepentingan, latar belakang sosial, budaya, dan pengembangan diri yang berbeda satu dengan yang lain. Artinya, seorang pemimpin akan memberikan perhatian untuk membina, membimbing, dan melatih setiap orang sesuai dengan karakteristik individu yang dipimpinnya.

Selanjutnya menurut Bass dan Avolio (dalam Balitbang 2003:29) mengatakan model kepemimpinan ini mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan (pengikut) serta secara khusus mau memperhatikan kebutuhan bawahan (pengikut) akan pengembangan karier. Berdasarkan uraian di atas, kerangka perilakunya adalah:

Toleransi

Pengertian toleransi adalah adanya penyimpangan-penyimpangan yang diperbolehkan. Manusia tidak luput dari segala kekurangan-kekurangan, namun demikian kekurangan tersebut ada norma yang membatasi sesuai dengan aturan dalam organisasi. Pemimpin juga adalah manusia biasa sudah pasti dalam melakukan tugasnya dan berinteraksi dengan sesama karyawan pasti mempunyai kekurangan. Pemimpin harus dapat memberikan tindakan yang pantas sesuai dengan batasan penyimpangan yang diperbolehkan.

Adil

Adil artinya tidak boleh membeda-bedakan sesama karyawan yang ada dalam perusahaan. Hal ini akan menimbulkan persaingan yang sehat diantara karyawan dalam upaya meningkatkan kinerja. Bagi mereka yang melakukan kesuksesan dalam pekerjaan harus mendapat penghargaan yang setimpal dan sebaliknya yang melakukan kesalahan mendapat sanksi (hukuman) setimpal yang bersifat pembinaan.

Pemberdayaan

Menurut dubin (2005;150) pemimpin dapat membangun kepercayaan, keterlibatan, kerjasama anggota tim.

Demokratif

Inti demokratif adalah keterbukaan dan keinginan memposisikan pekerjaan dari, oleh, dan untuk bersama. Menurut Oteng Sutisna (dalam Danim, 2006:213) kepemimpinan demokratis ialah suatu gaya kepemimpinan dimana pemimpin memainkan peranan permisif. Istilah permisif diartikan adalah mengijinkan.

Selanjutnya menurut Danim (2006:213) merumuskan kepemimpinan demokratis adalah “kepemimpinan yang dilandasi oleh anggapan bahwa hanya karena interaksi kelompok yang dinamis, tujuan organisasi dapat tercapai”. Masih menurut Danim, dengan interaksi dinamis dimaksudkan bahwa pemimpin mendelegasikan tugas dan memberikan kepercayaan kepada yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan bermutu secara kuantitatif.

Partisifatif

Partisifatif artinya melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan. Pemimpin meminta komentar, pendapat, dan saran-saran dari para karyawan terhadap apa yang akan dilaksanakan. Dengan demikian para karyawan merasa ikut bertanggung jawab atas keputusan yang diambil oleh pemimpin.

Penghargaan

Sesuatu yang diharapkan untuk diperoleh dinamakan penghargaan atau rewards. Secara garis besar, penghargaan dapat terbagi menjadi dua yaitu: penghargaan instrinsik (intrinsic rewards) dan penghargaan ekstrinsik (extrinsic rewards). Sule dan Saefullah (2005:248) mengatakan penghargaan instrinsik adalah sesuatu yang dirasakan oleh dirinya ketika melakukan sesuatu. Sesuatu yang dirasakan ini dapat berupa kepuasan dalam melakukan tugas, perasaan lega karena telah menuntaskan tugas hal ini berdampak terhadap adanya peningkatan kepercayaan diri. Sedangkan penghargaan ekstrinsik adalah sesuatu yang diterima oleh seseorang dari orang lain.

c.       Stimulasi Intelektual

Dalam kepemimpinan transformasional seorang pemimpin melakukan stimulasi-stimulasi intelektual. Elemen kepemimpinan ini antara lain kemampuan seorang pemimpin dalam menciptakan, menafsirkan dan mengelaborasi simbol yang muncul dalam kehidupan, dan mengajak bawahan untuk berpikir dengan cara-cara benar. Dalam arti, bawahan dikondisikan pada situasi untuk selalu bertanya pada diri sendiri dan mengembangkan kemampuan pemecahan masalah secara bebas. Sementara menurut Bass dan Silin (dalam Harsiwi 2003) melalui gaya kepemimpinan transformasional sebagai pemimpin akan melakukan situmulasi-stimulasi intelektual.

d.       Inspirasional

Inspirational motivation, pemimpin memberikan arti dan tantangan bagi pengikut dengan maksud menaikkan semangat dan harapan, menyebarkan visi, komitmen pada tujuan dan dukungan tim. Kepemimpinan transformasional secara jelas mengkomunikasikan harapan-harapan, yang diinginkan pengikut tercapai”. (Bass dan Avolio, 1994, dalam Yukl, 1998:140). Pemimpin transformasional berperilaku dengan tujuan untuk memberi motivasi dengan inspirasi terhadap orang-orang disekitarnya.

Perilaku pemimpin inspirasional dapat merangsang antusiasme bawahan terhadap tugas-tugas kelompok dan dapat mengatakan hal-hal yang dapat menumbuhkan kepercayaan bawahan terhadap kemampuan untuk menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan kelompok. Pemimpin transformasional harus dapat berperan banyak di dalam menstimulasi orang-orang yang terlibat agar menjadi lebih kreatif dan inovatif di samping dia juga merupakan seorang pendengar yang baik

H.    Hasil Penelitian yang Relevan

Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini disusun oleh Ahmad Sudrajat tahun 2008, hasilnya yaitu:

“Kepemimpinan transformasional kepala sekolah merupakan pemimpin yang, senang memotivasi staf untuk berani mengemukakan gagasan dan pendapat serta sikap optimistik, menampakkan apresiasi terhadap hasil kerja yang bagus, mengenali kerja staf secara perseorangan, dan mencari sumber-sumber ide baru untuk staf, kepala sekolah mengetahui bawahan secara perseorangan dan meniadakan bentuk sanksi atas kesalahan mereka dalam rangka meningkatkan profesionalisasi serta menghargai pentingnya kunjungan kepala sekolah ke sekolah lain untuk mencari ide baru”

BAB III

PENUTUP

A.    SIMPULAN

  1. Daya Saing setiap sekolah mempunyai tolok ukur keberhasilan peningkatan mutu pendidikan di sekolah dilihat pada setiap komponen pendidikan antara lain: mutu lulusan, kualitas guru, kepala sekolah, staf sekolah (Tenaga Administrasi, Laboran dan Teknisi, Tenaga Perpustakaan), proses pembelajaran, sarana dan prasarana, pengelolaan sekolah, implementasi kurikulum, sistem penilaian dan komponen-lainnya.
  2. Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah sangat dibutuhkan di Era Kompetisioner ini. Dengan adanya kepemimpinan transformasional kepala sekoah maka daya saing sekolah yang dimulai dari program, input, proses maupun output(lulusan sekolah) dapat berjalan sesuai dengan harapan sekolah yang mempunyai harapan untuk menjdikan sekolah menjadi sekoah yang berkwalitas dan berdaya saing tinggi.
  3. Pengaruh kepemimpinan transformasional Kepala sekolah terhadap daya saing sekolah sangat signifikan, sehingga dengan adanya model kepemimpinan transformasional mutu pendidikan akan lebih berkwalitas dan daya saing akan lebih tinggi pula.
    B.   SARAN

1. Seharusnya, kepala sekolah dapat mempertimbangkan disetiap keputusan dalam mengorganisir sekolah, sehingga organisasi sekolah dan keberlangsungan kegiatan di sekolah dapat berjalan secara lancar dan efisien.

2. Hendaknya, masing – masing kepala sekolah mengadakan program mereanalisis visi, misi sekolah dan program – program sekolah yang telah ada atau yang sudah diprogramkan. Dengan adanya kegiatan tersebut kepala sekolah dapat mengetahui apa yang dibutukan atau yang diinginkan oleh masing – masing aspek warga sekolah (baik tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan sekolah, peserta didik, dll), sehingga tujuan utama dalam meningkatkan daya saing sekolah akan terlaksana dengan baik dan sesuai harapan.

3. Sebaiknya, masyarakat menjadi sebuah subjek yang mengerti akan pentringnya daya saing sekolah, sehingga anak – anak bangsa dalam mendapat pendidikan akan menjadi anak yang mempunyai keunggulan dan mutu yang baik.

 

DAFTAR PUSTAKA:

Dirawat, dkk, 1986, Pengantar Kepemimpinan Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional.

John Hall, et.al. (2002) Transformational Leadership: The Transformation of Managers and Associates. on line : www.edis.ifas.ufl.edu

M.N. Nasution.(2000) Manajemen Mutu Terpadu. Jakarta: Ghalia Indonesia

Yukl, Gary. (2010) Leadership in Organization. Prentice-Hall : New Jersey

Umiarso & Imam Gojali.(2010)Manajemen Mutu Sekolah.Jogjakarta: Ircisod.

http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/28/peranan-motivasi-dalam-praktik-kepemimpinan-kepala-sekolah/

http://www.slideshare.net/iwanpalembang/kepemimpinan-kepala-sekolah

http://www.psb-psma.org/content/blog/peran-kepala-sekolah-dalam-meningkatkan-kompetensi-guru

http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/09/tugas-dan-peran-kepala-sekolah-sebagai.html

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: